Vaksin Astrazeneca Mengandung Babi, Pakar

“Jadi AstraZeneca juga enggak salah ketika dia mengatakan bahwa dia sudah commit dalam proses GMP tidak menggunakan unsur hewani,” kata Ahmad. Masudi juga mengatakan akan mendorong BPOM segera mengeluarkan pernyataan resmi atas kajian LPPOM MUI. “Kami juga tidak punya alat untuk mengkaji vaksin itu, kami akan hormati keputusan MUI dan BPOM,” ujarnya. “Vaksin ini telah disetujui di lebih dari 70 negara termasuk Arab Saudi,UEA, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair, dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah menyatakan sikap bahwa vaksin diperbolehkan untuk para muslim,” pungkasnya. Dalam kesempatan berbeda, epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Dr dr M Atoillah Isfandi, MKes, E memberikan pandangan terkait dengan konteks kehalalan pada vaksin COVID-19 AstraZeneca.

Dia memastikan bahwa vaksin buatan Oxford University, Inggris, tersebut halal untuk dikonsumsi. Setelahnya, ilmuwanOxford University melakukan uji klinis vaksin di Inggris dan berbagai negara dunia, termasuk Brasil, Afrika Selatan, AS, Argentina, Chile, Kolombia, dan Peru. Agar dosis vaksin cukup, bahan awal dikirimkan ke pabrik vaksin di lokasi uji klinis. Tripsin mayoritas diekstrak dari pankreas babi, yang menurut para ahli, merupakan sumber tripsin paling efektif. Namun dengan menggunakan enzim tersebut sebagai pancingan pertumbuhan virus, tidak membuat enzimnya tetap bertahan, juga tidak ditemukan sampai hasil akhir produk vaksinnya. Sehingga, yang disuntikkan ke manusia — alias produk akhir vaksin AstraZeneca, tidak ada kandungan babinya.

Pernyataan MUI sekaligus meluruskan vaksin AstraZeneca diperbolehkan penggunaannya dengan 5 syarat. Pertama karena ada kebutuhan mendesak, terdapat keterangan ahli yang kompeten terhadap risiko virus. Ketiga, ketersediaan vaksin halal masih terbatas, vaksin memiliki jaminan keamanan penggunaan dari pemerintah.

Meski dalam proses pembuatannya bersinggungan dengan babi, pemerintah sebut vaksin AstraZeneca tetap bisa digunakan karena kedaruratan. Ketersediaan vaksin yang suci dan halal sangat terbatas dan tidak mencukupi. “Produk jadi vaksin AstraZeneca tidak mengandung babi,” kata Anita, dikutip dari Kompas.com.

MANADO, KOMPAS — Vaksinasi Covid-19 di Sulawesi Utara bakal melambat akibat penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca dari kumpulan produksi CTMAV547. Hingga kini, belum ada kasus fatalitas di Sulut terkait penggunaan kelompok vaksin tersebut. Penelitian vaksin AstraZeneca yang beberapa waktu lalu tengah didalami Majelis Ulama Indonesia menunjukan hasil yang mengejutka. MUI memastikan bahwa vaksin covid-19 AstraZeneca mengandung babi dan dipastikan haram. Adapun berdasarkan ketentuannya, MUI menyatakan produk vaksin AstraZeneca secara kandungannya, dinyatakan memiliki bahan yang secara hukum Islam, haram bagi umat Muslim.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan sejumlah alasan vaksin Covid-19 produk AstraZeneca diperbolehkan di Indonesia. “Dossier merupakan dokumen yang berisi bahan lengkap terkait Vaksin COVID-19 produksi AstraZeneca. Dossier tersebut didapatkan MUI setelah melakukan audit dokumen di BPOM,” ujar Muti dalam keterangannya, Senin 22 Maret. JAKARTA – Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia menegaskan, Vaksin COVID-19 jenis AstraZeneca sudah fix dinyatakan haram dalam ketentuan hukumnya. Meski haram, MUI menyatakan vaksin AstraZeneca masih boleh digunakan dengan syarat.

Sel MRC-5 yang melekat pada cawan telah terinfeksi Adenovirus akan mereplikasi diri. Akhirnya, cawan akan penuh dan sel bisa mati atau tidak dapat berkembang. Untuk melepas sel tersebut, dibutuhkan tripsin, alias enzim yang diekstrak dari pankreas hewan . Meskipun sebagian masyarakat masih ada yang ragu-ragu dengan vaksin tersebut. Hanya saja, Pemkot akan membuat kebijakan baru mengenai vaksinasi Covid-19 pada bulan suci. Kemudian, para ilmuwan Jenner Institute menjalankan tes laboratorium dan studi hewan sambil mempersiapkan dosis yang diperlukan untuk uji klinis terhadap manusia.

Vaksin Astrazeneca babi

“Pada tahap ini terdapat penggunaan bahan dari babi berupa tripsin berasal dari pankreas babi. Bahan ini digunakan untuk memisahkan sel inang dan microcarrier-nya,” jelas Hasanuddin dikutip dari BBC Indonesia. Pernyataan MUI mengenai vaksin AstraZeneca mengandung babi hasil kajian bekerja sama dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika MUI . Hasil riset menemukan unsur babi dalam proses pembuatan vaksin Covid-19 AstraZeneca. a) Pada tahap penyiapan inang virus terdapat penggunaan bahan dari babi berupa tripsin yang berasal dari pankreas babi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik MUI merespons klarafisikasi AstraZeneca Indonesia terkait dengan temuan pemanfaatan unsur babi dalam vaksin keluaran Oxford, Inggris itu. “Pihak AstraZeneca tidak menggunakan tripsin hewan pada proses produksinya. Dan di akhir tripsin itu tidak ada,” ujarnya saat diskusi terbatas yang digelar Weber Shandwick secara virtual, Senin 29 Maret 2021. Pemkot Balikpapan tidak akan menghentikan vaksinasi Covid-19 meski AstraZeneca mengandung babi. Untuk diketahui, jelas Anita, dengan memakai sel HEK 932 sebagai salah satu bahan pembuatan vaksin.

SEPUTARTANGSEL.COM – Polemik vaksin AstraZeneca yang mengandung babi sehingga dipertanyakan halal atau haram. Mereka menegaskan vaksin buatannya tidak mengandung babi atau hewan lain. Perlu ditekankan bahwa sejauh ini, angka penderita CSVT setelah vaksinasi amat minim. Di Inggris, dari eleven juta penerima vaksin, 5 orang menderita CSVT dan hanya 1 yang fatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *